Rabu, 10/06/2015 Pendidikan 14599 hits


PANDUAN BAGI GURU DAN TENAGA KESEHATAN

 “PENCEGAHAN TERJADINYA PERILAKU KEKERASAN (BULLYING) MELALUI PROGRAM ANTI-BULLYING DI SEKOLAH”.

Oleh :

 Ghulam Ahmad, S.Kp

 

Mahasiswa Program Studi S2 Keperawatan Stikes Ayani Cimahi

Dosen Program Studi S-1 Keperawatan Stikes Kota Sukabumi

 

 Memahami “bullying”

School “bullying” adalah perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seorang/sekelompok siswa yang memiliki kekuasaan terhadap siswa/siswi lain yang lebih lemah dengan tujuan menyakiti orang tersebut (Riauskina, Djuwita, dan Soesetio, 2005).

Bentuk perilaku bullying dapat berupa :

  1. kekerasan fisik (mendorong, menendang, memukul, menampar).
  2. Secara verbal (Misalnya panggilan yang bersifat mengejek atau celaan).
  3. Secara mental (mengancam, intimidasi, pemerasan, pemalakan).
  4. Secara sosial, misalnya menghasut dan mengucilkan.

 

Menurut Ida dan Komang (2014), dalam penelitiannya, terhadap 176 anak sekolah di Bali, korban “bullying” akan mengalami kesulitan dalam bergaul, merasa takut datang ke sekolah sehingga absensi mereka tinggi dan tertinggal pelajaran, dan mengalami kesulitan berkonsentrasi sehingga akan berdampak pada prestasi belajarnya. Hasil penelitian secara kualitatif menunjukan bahwa korban perilaku kekerasan menunjukkan self-esteem yang rendah sehingga tidak mampu membentuk meknisme pertahanan diri yang kuat (Newman, 2004).

Gejala Siswa yang Menjadi Korban Bullying

  • Mengalami luka (berdarah, memar,goresan).
  • Sakit kepala/sakit perut.
  • Barang miliknya mengalamikerusakan.
  • Tidak mau pergi ke sekolah,merubahrute pergi ke sekolah.
  • Prestasi akademiknya menurun.
  • Menarik diri dari pergaulan ataumerasa malu.
  • Tidak mau berpartisipasi lagi dalamkegiatan yang biasanya disukainya.
  • Gelisah, muram, dan menjadi agresifdengan melakukan bullying kepada saudara kandung.
  • Mengancam atau mencobamelakukan bunuh diri

(Tisna, 2010 danTine, 2012)

 

Mengukur “bullying” di sekolah

Mengidentifikasi kejadian perilaku kekerasan (Sharp & smith, 2003)  merupakan hal yang sangat penting guna menghentikan segera perilaku kekerasan yang terjadi. Ada berbagai macam cara untuk mengidentifikasi kejadian bullying di sekolah :

  1. Melakukan survey dengan menggunakan instrumen pengumpulan data
  2. Melakukan wawancara terhadap siswa sekolah dan guru.
  3. Mengobservasi perilaku siswa sekolah, terutama siswa yang sering berkelompok.

Professor Dan Olweus pada tahun 1993 telah mengembangkan instrumen untuk mengidentifikasi dan mengukur tingkat bullying yang terjadi di sekolah. Namun demikian, sekolah dapat mengembangkan sendiri instrumen untuk menidentifikasi perilaku kekerasan yang dapat terjadi di sekolah (Lee, 2004).

Beberapa pertanyaan yang perlu ada dalam instrumen antara lain :

  1. Seberapa sering siswa mengalami perilaku kekerasan?
  2. Bagaimana cara pelaku melakukan perilaku kekerasan ?
  3. Bagaimana perasaan korban terhadap perilaku kekerasan yang dialami ?
  4. Apakah siswa pernah melakukan perilaku kekerasan terhadap siswa lain? Seberapa sering ?
  5. Dimana perilaku kekerasan terjadi?
  6. Apakah ada orang lain yang berusaha mencegah terjadinya perilaku kekerasan ?

(Sharp  Smith, 2003)

 

Berdasarkan penelitian Bernstein dan Watson (1997) bahwa karakteristik korban sasaran tindakan “bullying” adalah cenderung lebih kecil atau lebih lemah daripada teman sebayanya. Dengan kata lain, ukuran badan lebih besar, terutama diantara anak laki-laki cenderung mendominasi teman sebaya berbadan lebih kecil. Selain itu, juga bisa dikaitkan dengan kecenderungan siswa atau mahasiswa senior terhadap siswa/mahasiswa junior (Hamburger, 2011).

 

Metode Pencegahan Bullying

Ken Rigby (2010) mengatakan ada 6 (enam) cara yang dapat dilakukan di Sekolah untuk mengurangi “bullying” dan dampaknya :

1.       The traditional disciplinary approach

Pendekatan ini dilakukan dengan cara :

  1. Guru memanggil siswa yang melakukan perilaku kekerasan
  2. Menjelaskan kepada siswa tentang perilaku kekerasan yang terjadi.
  3. Minta penjelasan dari siswa tersebut terhadap kejadian perilaku kekerasan yang dilakukan.
  4. Jelaskan kepada siswa jika ada peraturan sekolah yang dapat memberikan hukuman atau sanksi bagi pelaku perilaku kekerasan
  5. Berikan hukuman dan sanksi kepada pelaku kekerasan
  6. Motivasi agar tidak melakukan kembali perilaku kekerasan
  7. Berikan penekanan dengan ancaman hukuman yang lebih berat jika perilaku kekerasan terjadi kembali di masa yang akan datang. 

2.       Strengthening the victim

Korban “bullying” diberi penguatan untuk dapat melawan dan mempertahankan diri dengan berbagai macam aktifitas seperti bela diri. Namun demikian, hal ini dapat menimbulkan terus berlangsungnya “bullying” dengan perilaku kekerasan. Agar korban “bullying” mampu beradaptasi terhadap stressor yang dialami, maka perlu dilakukan latihan “management stress” sehingga anak memiliki kemampuan koping yang baik.

3.       Mediation

Mediasi merupakan cara penyelesaian konflik yang terjadi antara siswa dengan melibatkan guru sebagai mediator. Mediasi dapat terjadi jika kedua pihak, pelaku dan korban sepakat untuk mencari bantuan terhadap masalah yang mereka hadapi.

Langkah-langkah yang dilakukan :

  1. Guru meminta penjelasan dari setiap siswa secara bergantian, tentang kejadian  atau masalah yang terjadi.
  2. Siswa lain diminta mendengarkan tanpa memberikan pendapat, memotong pembicaraan sampai siswa tersebut selesai menyampaikan pendapatnya.
  3. Guru kemudian meminta saran tentang penyelesaian masalah kepada setiap murid kemudian mencatatnya tanpa memberikan pendapat terhadap saran yang disampaikan oleh setiap siswa.
  4. Saranyang disampaikan oleh setiap siswa dibuatkan daftar dan didiskusikan dengan kedua siswa, memilih saran yang disepakati bersama untuk mengatasi masalah yang ada.

4.       Restorasi practice

Pendekatan ini mencoba memperbaiki hubungan yang tidak harmonis antara pelaku dan korban, dengan saling memaafkan dan tindakan kompensasi. Kegiatan ini diterapkan dengan meningkatkan komunikasi dengan melibatkan orang tua kedua belah pihak atau di kelas dengan teman mereka.

5.       The Support Group Method

Ada 7 langkah dalam metoda ini yaitu :

  1. Wawancara terhadap korban untuk mengidentifikasi kejadian secara detail, termasuk nama-nama pelaku yang melakukan perilaku kekerasan atau yang menyaksikan perilaku kekerasan terjadi. Yakinkan kepada korban bahwa tidak ada pelaku yang akan mendapatkan hukuman.
  2. Nama-nama yang teridentifikasi, dikumpulkan dalam sebuah group 6 – 8 orang.
  3. Kemudian diskusikan tentang perilaku kekerasan dan jelaskan situasi yang dialami oleh korban tanpa menyebutkan secara spesifik identitas korban atau waktu serta lokasi kejadian perilaku kekerasan
  4. Pastikan dan yakinkan bahwa tidak ada yang akan dihukum agar pelaku mau terlibat dalam diskusi dan bertanggung jawab terhadap kejadian yang terjadi.
  5. Tanyakan kepada setiap individu apa yang bisa dilakukan untuk dapat membuat korban perilaku kekerasan menjadi lebih baik lagi.
  6. Ingatkan kepada peserta akan tanggung jawab yang harus dilakukan agar korban menjadi lebih baik. Berikan penghargaan karna sudah mau terlibat dalam diskusi dan membuat situasi menjadi lebih baik lagi. Jelaskan bahwa pertemuan berikutnya akan dilakukan sesuai dengan kesepakatan bersama untu mendiskusikan tindak lanjut.
  7. Seminggu kemudian, setiap siswa dari grup di wawancara secara individu untuk mengidentifikasi perkembangan tanggungjawab yang telah dilakukannya. Korban juga diwawancara untuk melihat perbaikan situasi yang telah dilakukan oleh para pelaku.

Selama metode ini diterapkan, penting untuk tidak menyalahkan salah satu pihak atau individu.

6.       The Method of Shared Concern

Metode ini meliputi :

  1. Mengidentifikasi dengan cara mengobservasi  dan wawancara siswa yang dicurigai menjadi korban dan pelaku perilaku kekerasan.
  2. Motivasi siswa agar mau menjelaskan kejadian yang terjadi dan yakinkan bahwa tidak ada satu pun yang akan mendapatkan hukuman termasuk dengan menyebutkan pelaku kekerasan.
  3. Temui siswa yang dicurigai secara individual, jika respon siswa positif, rencanakan untuk bertemu antaraa pelaku dan korban dalam sebuah diskusi.
  4. Dalam pertemuan kedua belah pihak, cari solusi penyelesaian terhadap masalah yang dihadapi.

 

 Menciptakan kebijakan anti “bullying di sekolah

Meskipun tidak ada peraturan yang mewajibkan sekolah harus memiliki kebijakan program anti “bullying”, tapi dalam undang-undang perlindungan anak No.23 Tahun 2002 pasal 54 dinyatakan:

 

"Anak wajib dilindungi dari tindakan kekerasan yang dilakukan oleh guru, pengelola sekolah atau temannya di dalam sekolah yang bersangkutan, atau lembaga pendidikan lainnya."

 

Dengan kata lain, siswa mempunyai hak untuk mendapat pendidikan dalam lingkungan yang aman dan bebas dari rasa takut. Pengelola Sekolah dan pihak lain yang bertanggung jawab dalam penyelengaraan pendidikan mempunyai tugas untuk melindungi siswa dari intimidasi, penyerangan, kekerasan atau gangguan.

Di beberapa negara lain, disetiap sekolah dan perguruan tingginya diadakan kebijakan program anti-”bullying”. Program tersebut melibatkan pihak sekolah, konselor, orang tua dan siswa dengan memberikan penyuluhan tentang apa itu perilaku “bullying” dan akibatnya serta bagaimana strategi pencegahan dan cara menghadapi kejadian “bullying”(Craig, 2009).

 

Menyiapkan Program anti-bullying di Sekolah

Sekolah harus mampu membuat kebijakan atau menciptakan program “anti-bullying” untuk mencegah terjadinya perilaku kekerasan di lingkungan sekolah. Kebijakan atau program meliputi pencegahan dan intervensi terhadap perilaku kekerasan. Seluruh komponen sekolah harus dilibatkan dalam membuat dan menerapkan program anti-bullying.

Langkah-langkah yang perlu dilakukan yaitu :

  1. Mengumpulkan materi tentang bullying melalui sumber informasi yang benar dan terpercaya, baik buku, pakar atau media massa dan teknologi informasi.
  2. Berikan informasi tentang bullying melalui pelatihan dan seminar kepada guru, staf, siswa dan orang tua, dengan melibatkan pihak terkait seperti aparat pemerintah, puskesmas, kepolisian dll.
  3. Bentuk tim kerja atau panitia untuk menyusun rencana kerja pembentukan program anti-bullying di sekolah.
  4. Tim melakukan survey, mengumpulkan pendapat tentang program anti-bullying yang sesuai dengan kondisi dan karakteristik di lingkungan sekolah.
  5. Hasil survey dan meminta pendapat kemudian dikemas menjadi sebuah rencana program anti bullying untuk dipresentasikan secara internal di sekolah kepada guru dan staf.
  6. Konsultasikan rencana program anti bullying dengan pihak terkait seperti aparat kepolisian, petugas kesehatan (perawat dan dokter), psikolog, tokoh agama serta aparat pemerintahan setempat. Libatkan juga orang tua dalam konsultasi rencana program anti-bullying.
  7. Beberapa hal yang harus ada dalam rencana program anti-bullying adalah:
    • Tujuan program anti-bullying
    • Strategi untuk mencegah terjadinya bullying
    • Cara pelaporan ketika terjadi bullying
    • Penanganan bullying
    • Tanggung jawab guru, staf, siswa, orang tua, pihak terkait dalam pelaksanaan program anti-bullying
    • Metode monitoring dan evaluasi pelaksanaan program anti bullying
    • Program anti-bullying yang telah disempurnakan melalui konsultasi, siap disahkan oleh sekolah dan mulai diimplementasikan dilingkungan sekolah

 

Pelaksanaan program anti-bullying di Sekolah

Sekolah memerlukan waktu dan proses untuk membuat program anti bullying dan melaksanakannya dengan baik. Sosialisasi tentang program anti bullying dengan komunikasi yang baik, sangat diperlukan agar lingkungan sekolah siap melaksanakan seluruh program sesuai dengan yang telah ditentukan bersama.

 

 

Beberapa kegiatan yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan program anti bullying yaitu :

  1. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin dengan bekerja sama dengan petugas kesehatan setempat (puskesmas).
  2. Melakukan survey tingkat bullying yang terjadi di sekolah.
  3. Memberikan penyuluhan tentang bullying dan dampaknya terhadap siswa sekolah.
  4. Mengadakan pelatihan tentang manajemen penatalaksanaan penanganan bullying di sekolah kepada guru dan staf.
  5. Memasukan program anti bullying ke dalam kurikulum sekolah dengan menekankan perilaku asertif, kerjasama, tolongmenolong, manajemen konflik dan manajemen stres.
  6. Mengadakan wadah bagi siswa untuk berkompetisi secara sehat di bidang ekstrakurikuler.
  7. Mengawasi secara rutin lokasi yang rawan terjadinya bullying (pergunakan kamera pengawas jika diperlukan).
  8. Meningkatkan peran guru wali dalam memantau perkembangan siswa di sekolah.
  9. Menyediakan wadah pelaporan terjadinya bullying oleh siswa di sekolah.
  10. Menciptakan lingkungan kondusif dengan melengkapi sarana dan prasaran bagi siswa untuk berativitas dan berkarya.

Perlukah Kasus Bullying Dilaporkan ke Aparat Kepolisian?

Sebisa mungkin masalah bullying dicegah dan ditangani secara intern dilingkungan sekolah. Dalam menangani masalah bullying, sangat penting untuk diselesaikan secepat mungkin sebelum menimbulkan dampak serius terhadap perkembangan pribadi dan pendidikan siswa. Meskipun demikian, tidak menutup kemungkinan pihak berwajib terpaksa dilibatkan sebagai upaya terakhir atau karena berdasarkan pertimbangan berbagai faktor berikut:

  1. Kasusnya berpotensi dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang serius terhadap korban.
  2. Cara lain gagal atau tidak tepat karena masalahnya serius sehingga dengan melaporkan kepada polisi diharapkan kasus bullying tidak akan terjadi lagi.

 

 

DAFTAR PUSTAKA 

Andina, Elga. (2014). Kajian Singkat Info Terkini : Budaya Kekerasan Antar Anak Di Sekolah Dasar. Vol. VI, No. 09/I/P3DI/Mei/2014

Craig, Wendy. (2009). A cross-national profile of bullying and victimization among adolescents in 40 countries. Int J Public Health. Author manuscript; available in PMC.

Damayanti, Nurlaela. (2013). Pengaruh Teknik Self Control Untuk Mengurangi Perilaku Bullying  Pada Siswa Tunalaras Di Slb E Prayuwana Yogyakarta. Universitas Pendidikan Indonesia.

Dwipayanti, A.S dan Indrawati, R.I (2014). Hubungan Antara Tindakan Bullying dengan Prestasi Belajar Anak Korban Bullying pada Tingkat Sekolah Dasar. Jurnal Psikologi Udayana. Vol. 1, No. 2, 251-260. Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Udayana

Elaine Guiney. (2011). Parenting Positively : Helping teenagers to cope with Bullying. Ireland : Family Support Agency and Barnados

Eriksen, Tine Louise Mundbjerg.(2012). The Effects of Bullying in ElementarySchool. Discussions paper No. 6718.  Germany : The Institute for the Study of Labor (IZA).

Hymel, Dr. Shelley and Swearer, Dr. Susan. (2009). Bullying At School an d Online: Quick Factes.Education Special Edition. American Assositation of School Administrations.

Hamburger ME, Basile KC, Vivolo AM .(2011). Measuring Bullying Victimization, Perpetration, and Bystander Experiences ; A Compendium of Assement Tools. Atalanta : National Center Care For Injury Prevention and Control

Ian Rivers and friends. (2009). Observing Bullying at School: The Mental Health Implications of  Witness Status. American Psychological Association Journal. Vol. 24, No. 4, 211–223

Ken Rigby. (2010). Bullying Interventions in schools: Six major approaches. University of South Australia. Camberwell: ACER.

Lee, Chris. (2004). Preventing Bullying in School : A guide for Teacher and Other Professionals. London : Paul Chapman Publishing.

Newman, Matthew L & Holden, GW.(2004). Yvon Delville. Isolation and the stress of being bullied. Journal of adolescence. The University of Texas at Austin, Department of Psychology, 1 University Station

Sharp, Sonia & Smith, Peter K. (2003). Tackling bullying in your school : A practical handbook for teacher. USA : Taylor&Francis e-Library.

Tine LM, Eriksen HS, Nielsen MS. (2012). Discussion Paper Series :The Effects of Bullying in Elementary School. IZA Discussion Paper No. 6718 . Germany

Tisna Rudi. (2010). Informasi Perihal Bullying. Edisi Maret 2010. Indonesian Anti Bullying

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002  Tentang Perlindungan Anak Tanggal 22 Oktober 2002

Wolke, Volke & Lereya, Suzet Tanya. (2014).Bullying and Parasomnias: A Longitudinal Cohort Study.Pediatrics official journal of the american academy of pediatrics.American Academic Pediatrics

 

 

 

 

: tanpa label


Cara Belajar Efektif

Rabu, 27/11/2013

NEGERI TANPA AYAH

Senin, 02/02/2015